Malam Jahanam
Ini bukan kisah perselingkuhan. Tokohnya pun bukan Mat Kontan, Paijah, Solaiman dan Utai. [Malam Jahanam, Motinggo Busye] Hanya, setingannya yang sama, yaitu: MALAM. Dan ada sebuah kejahatan di dalammnya.
Tidak biasanya aku pulang malam selama “masa menyusui.” Tapi hari itu, Rabu 31 Januari aku mesti ketemu salah satu sumberku. Setelah menikmati dua-tiga cangkir teh, aku pamit pulang, aku harus menyusui Nayaka segera karena tempat tampung ASI nya sudah tidak ada lagi dan air susuku sudah penuh. Malam itu hujan rintik. Membawa tas punggung, tas botol ASI dan kado dari temanku yang ukurannya besar. Mataku rabun tak berkaca mata. Dari sarinah, aku melihat beberapa taksi sedang mangkal, tapi taksinya yang gak aku percaya. Hujan mulai menderas. Ada taksi berlogo burung berjalan perlahan-lahan. Segera aku naiki. Setelah sadar, ternyata bukan blue bird melainkan concord. Ya sudahlah, mudah2an gak papa, apalagi setelah melihat supirnya. Sudah tua dan tutur kata pada saat menyapaku sangat sopan.
Tapi, itu tidak berapa lama. Berdalih ada masalah ban mobilnya, laki-laki tua yang menjadi sopir, keluar dari mobil dan digantikan 4 orang. Dari kiri kananku dan dua dari depan. Salah satunya menduselku dan mengancamku dengan pisau. Laki2 di kiriku merampas tas punggungku. Hilanglah seketika gaji di amplop yang belum sempat aku tabung..
Di bawah ancaman pisau pula, mereka meminta handphoneku. Padahal handphone udah tinggal nunggu waktu itu sangat berguna untuk pekerjaanku. Segala negosiasi sudah aku lakukan supaya mereka tidak mengambil handphone. Dengan jerih payah, akhirnya aku dapatkan sim card nya. Malam itu aku bertekad untuk tetap dalam logika. Tenang dan tidak panik.
Laki-laki di samping kiriku yang sedari tadi mengaduk-aduk isi tasku. Ia melihat beberapa lembar ID ku. “Mbak wartawan yah?” Aku mengangguk. Rekannya yang duduk di depan tertawa keras. “Hahahaha, tulis berita ini besok mbak. Kami gak takut.”
“Percuma pak, berita sampah gini gak bakalan di muat di media saya.” Jawab aku berusaha tenang.
“Loh, mbak tinggal di komplek polisi yah. Siapa yang polisi.” Kata laki-laki samping kiri aku sambil membaca KTP. Sementara laki-laki di sebelah kanan aku kembali menempelkan pisau ke leher aku. Besi dingin itu membuatku berpikir dua kali. Aku memilih berkata jujur. “Gak ada yang polisi, pak, cuma memang tinggal di komplek polisi aja. Di tempat saya gak ada sama sekali polisinya.” Aku menjawab setengah berbohong, padahal pak de aku pensiunan Danlanud, mbak sepupu aku pangkat kapten di Polres selatan, mas sepupu aku kapolres di pontianak.
Lelaki di depan aku melihat aku dengan seksama, pisau di leher aku semakin dingin. Mungkin ingin memastikan aku berkata jujur. Butiran keringat bermunculan. Tik..tik..tik..waktu bergulir lama sekali.
“Ayo, kita turunin dimana dia.” Sopir menanyakan rekan2nya yang sibuk dengan pikirannya masing2.
“heh..kau kan jauh dari perantauan. Jauh dari istri. Ini ada barang bagus. Ayo kita cari tempat.” kata laki-laki di depanku.
Hupf..aku gak menyangka kalau mereka akan nekat berbuat itu. Sepanjang pengetahuanku tentang perampokan di taksi, para korban paling parah diiket dan dibuang dalam keadaan terikat. Belum pernah ada yang diperkosa [maaf kalo aku salah, terutama untuk korbannya]. Aku gak mau jadi pertama.
“pak, saya turunin aja pak. Toh, bapak sudah ambil semua.” Kali ini suara aku bergetar. “Diem lu.” Laki-laki yang duduk di depan menoyor kepalaku. Aku tersentak. Antara kaget, takut, dan marah. “Ayo, cari tempat.” Ia menepuk punggung si supir.
Akhirnya ketahananku bobol juga. Aku menangis terseguk-seguk. Aku takut. Aku inget anakku, suamiku, ayah ibuku, kakak-kakakku. Badanku bergertar hebat. Tangisku berubah menjadi menghiba memohon mereka untuk tidak menyentuhku. Tapi aku tahu, kalo aku histeris mereka malah senang. Aku pernah membaca dan mendengar para penjahat kelamin, mereka akan lebih senang apabila korbannya panik dan histeris.
Entah karena aku terlalu menahan takut, entah karena aku terlalu panik, Tuhan memberikan pertolongan lewat cara-Nya. Badanku [seumur-umur aku belom pernah seperti itu] mendadak gemeter. Ya, gemetar, menggigil dan menggerakkan semua unsur di badanku. Kotak penyimpan ASI itu tiba-tiba terbuka, akibatnya botol penyimpan ASI dan sebagian es batu jatuh menimbulkan kegaduhan. Aku segera memungut botol-botol ASI itu. Sontak, para penjahat itu kaget dan bertanya padaku. Lelaki di kananku yang membawa pisau menarik leherku. “Kamu bawa senjata yah? Bunyi apa itu. Diam kamu.” Suara-suara mereka menjadi satu, mobil mendadak berhenti. “Bukan, bukan. Bukan apa-apa. Ini cuma botol-botol ASI buat anak saya. Anak saya masih tiga bulan pak, masih saya susui.” Isak aku.
Aku mengambil botol-botol ASI satu persatu. Berusaha tidak menjadi histeris. Wajah yandhrie segera membayang di kepala aku. Samar-samar aku mendengar ocehan Nayaka. Tangis aku semakin menderas. Di tengah-tengah keheningan, si supir yang dari tadi berputar-putar mengeluarkan suara. “Udah deh, kita turunin aja. Lagian kita gak kesitukan rencananya. Udah ni ibu kasih duit lah buat ongkos.” Laki-laki di sampingnya melihat supir lalu beralih ke aku. “Ya, udah, turunin deh di depan. Ujan dah makin deres. Nih, [dia mengambil uang dari sakunya] ceban. Cukupkan? Lu panggil taksi laen. Jangan ketipu dua kali, hahahaha”
Mobil berhenti mendadak. Laki-laki kecil sebelah kiri aku membuka pintu. Ia keluar lalu menarik aku dan setengah mendorong aku. Barang-barangku, tas ransel kerja, tas ASI, dan bungkusan kado untuk Nayaka dilemparkan ke arahku.
Taksi biru itu menderu meninggalkanku di gemuruh hujan..
Malam pekat. Ini sebuah malam yang jahanam…
[ah.. akhirnya terselesaikan juga, setelah setiap menorehkan kalimat pasti selalu brebes mili, dendam dengan mereka. menara thamrin lt.17, 28maret07]

olala....gitu toh ceritanya..
ihhh serem ya ri..... aku denger dari kakakku dia bilang istrinya yandhrie kerampokan di taksi. oh tak menyangka seseram itu kejadiannya...
ya lagi apesss,
moga lain kali gak terulang lagi.... amin
Posted by: NoviArdiani | March 28, 2007 11:59 PM
Aduuhhhh Ri....terus gimana ? Lapor polisi ngga? Aku ikut ngeri denger ceritanya...aduh ampe ngga tau mo comment apa lagi...!!!! Jahanam emang....
Posted by: Wenny | March 29, 2007 03:35 PM
@Novi
iya..seperti itu..apess
@mbak wenny
lapor polisi. cuma...gitu deh, polisi. hampir sama kejamnya polisi ama penjahat.
Posted by: ariemega | March 29, 2007 09:54 PM
Astaga...masya allah..kpn kejadiannya bu? i dont know what to say..cuma lain kali ati2 dech. kejadian kaya gini bisa menimpa siapa aja. Yg terpenting, kamu ga usah trauma. tetap berpikir jernih. toh siapapun bisa mengalami kejadian seperti ini. tabah ya kawan... keep on rockin
Posted by: Adhie | April 2, 2007 01:47 AM
Arie..
aku baru baca blog kamu...
(sori komennya telat)..
Ya ampuun..
Bedebah bgt penjahat2 itu..
Alhamdulillah kamu masih dilindungiNya..
Cerita kamu harus jadi perhatian kaum perempuan, terutama yang suka naik turun taksi.. akupun termasuk orang yang sering naik taksi..
Hiks.. jahat banget ya mereka.. Mereka lupa bahwa istri mereka juga perempuan, bukan gak mungkin nasibnya akan sama dengan cara yang berbeda..
Semoga mereka segera mendapat hidayahNya...
Nextnya kamu harus lebih hati2 n waspada ya....
Posted by: astried | June 21, 2007 07:38 PM