« February 2007 | Main | April 2007 »

March 29, 2007

untuk sang maestro.....

Berita di radio tadi pagi mengejutkan saya. Chrisye telah berpulang. Pemusik sepanjang masa meninggalkan kita. Sedih. Banget. Sepanjang usia saya, musik Chrisye pasti selalu ada di setiap masanya. Disamping penyanyi-penyanyi lain tentunya.

Pertama kenal chrisye, jelas waktu SD. Tepatnya kelas 3SD. Perjalanan Tomang-Ps.Minggu, pasti papa saya akan memutar kaset-kaset Chrisye. Di antaranya Sabda Alam. Khayalan kanak-kanak saya bergelayut setiap mendengar lagu itu. Atau, bertanya sama papa saya, apa itu hura-hura? Di SD pula, saya dan segerombolan teman-teman saya dance untuk perpisahan kelas 6 dengan lagu Anak Sekolah. Hahahaha….”engkau masih anak sekolah, satu SMA….” We’re not even high school yet!

Gara-gara mas-mas saya yang jauh lebih tua, saya jadi sok tau kenal “cinta”, pacaran. Padahal umur 12 pun belum saya lewati. Tapi saya sudah hapal “maka izinkan diriku, mencintaimu, atau bolehkah aku sekedar, sayang padamu.” Di samping lilin-lilin kecil yang memang lagu andalan.

Waktu SMP, pertama kenal cinta monyet, saya bisa berbombay-bombya mendenger lirih Merpati Putih, wekekekkekek. Atau berandai-andai ditinggal pacar [hahahaha!! Anak SMP pacarnya mau kemana siiih???] dengan lagu Pergilah Kasih.

SMA. HOHAHAHAHA…my first love, my first kiss. Adaaa aja saya kait-kaitkan dengan lagu2nya chrisye.

Kuliah…ah.. yah begitulah. Di antara  “kesibukan” saya, tetep lagu Chrisye jadi andalan saya menghayal. Pernah, teman saya namanya Aji. Tiba-tiba memainkan gitar menyanyikan Malam Pertama. Sejak itu saya bertekad, nanti “malam pertama” saya, setelah “itu” saya mau mendengarkan lagu ini sama si suami saya. Hehehe, ternyata Bumiku, Yandhrie ku malah memutar lagu nya Sade…ah..

Sepanjang perjalanan dari rumah ke kantor, di benak saya mengingat-ingat. Dimana koleksi kaset chrisye saya. Saya ingin mengumpulkannya. Kalau perlu saya cari di loakan. Atau di Duta Suara sekalian. Untuk kali ini saya terpaksa “boros” mengumpulkan suara Chrisye., karena sudah tidak mungkin saya menonton konser Chrisye..

Selamat jalan maestro….

Ketika Tangan dan Kaki Berkata

Akan datang hari... Mulut dikunci
Kata…tak ada lagi
Akan tiba masa… tak ada suara
Dari… mulut kita

Berkata tangan kita..
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita..
Kemana saja dia melangkahnya

Tanggung jawab tiba… robbana
Tangan kami.. Kaki kami..
Mulut kami.. Mata hati kami

Luruskanlah.. Kukuhkanlah..
Di jalan cahaya.. Sempurna
Mohon karunia.. Kepada kami
Hambamu yang hina


rindu

aku hanya bisa menghela nafas..

melihatmu teronggok berselimutkan debu dan bersulam rumah laba-laba

lilin itu telah membeku, kain itu telah mengeras, minyak itu telah mengering..

aku hanya bisa menghela nafas..

goresan demi goresan berarti tarian jemariku di masa lalu.

mengerak seiring dengan keringnya udara

maaf aku tak bisa bersamamu..

aku hanya bisa menghela nafas..

betapa aku merindumu

menorehkan garis parang rusak di seratmu

menyelesaikan warisan leluhur

buat para pendahuluku: Maaf aku ndak bisa berbuat apa-apa, sewaktu mendengar berita "Motif Parang dipatenkan Malaysia" 7 tahun silam.

sekarang, aku juga tidak menengok rumahmu, padahal aku tahu, semenjak gempa lalu, kondisi rumahmu kian terpuruk...

tidak banyak muda-muda sekarang mengunjungi rumahmu untuk mengetahui ceritamu..

mereka lebih suka ke mol. nonton bal-balan di tivi, atau trek-trekan di sepanjang malioboro.

aku hanya bisa berjanji, kelak nayaka berjalan,akan aku tunjukkan kecintaanku padamu...

[kapan aku bisa membatik lagi. canting-cantingku bengkok semua. lilin itu mengering. kompor itu membeku...aku rindu membatik, menorehkan cintaku pada selembar kain]

March 28, 2007

Malam Jahanam

Ini bukan kisah perselingkuhan. Tokohnya pun bukan Mat Kontan, Paijah, Solaiman dan Utai. [Malam Jahanam, Motinggo Busye] Hanya, setingannya yang sama, yaitu: MALAM. Dan ada sebuah kejahatan di dalammnya.

Tidak biasanya aku pulang malam selama “masa menyusui.” Tapi hari itu, Rabu 31 Januari aku mesti ketemu salah satu sumberku. Setelah menikmati dua-tiga cangkir teh, aku pamit pulang, aku harus menyusui Nayaka segera karena tempat tampung ASI nya sudah tidak ada lagi dan air susuku sudah penuh. Malam itu hujan rintik. Membawa tas punggung, tas botol ASI dan kado dari temanku yang ukurannya besar. Mataku rabun tak berkaca mata. Dari sarinah, aku melihat beberapa taksi sedang mangkal, tapi taksinya yang gak aku percaya. Hujan mulai menderas. Ada taksi berlogo burung berjalan perlahan-lahan. Segera aku naiki. Setelah sadar, ternyata bukan blue bird melainkan concord. Ya sudahlah, mudah2an gak papa, apalagi setelah melihat supirnya. Sudah tua dan tutur kata pada saat menyapaku sangat sopan.

Tapi, itu tidak berapa lama. Berdalih ada masalah ban mobilnya, laki-laki tua yang menjadi sopir, keluar dari mobil dan digantikan 4 orang. Dari kiri kananku dan dua dari depan. Salah satunya menduselku dan mengancamku dengan pisau. Laki2 di kiriku merampas tas punggungku. Hilanglah seketika gaji di amplop yang belum sempat aku tabung..

Di bawah ancaman pisau pula, mereka meminta handphoneku. Padahal handphone udah tinggal nunggu waktu itu sangat berguna untuk pekerjaanku. Segala negosiasi sudah aku lakukan supaya mereka tidak mengambil handphone. Dengan jerih payah, akhirnya aku dapatkan sim card nya. Malam itu aku bertekad untuk tetap dalam logika. Tenang dan tidak panik.

Laki-laki di samping kiriku yang sedari tadi mengaduk-aduk isi tasku. Ia melihat beberapa lembar ID ku. “Mbak wartawan yah?” Aku mengangguk. Rekannya yang duduk di depan tertawa keras. “Hahahaha, tulis berita ini besok mbak. Kami gak takut.”

“Percuma pak, berita sampah gini gak bakalan di muat di media saya.” Jawab aku berusaha tenang.

“Loh, mbak tinggal di komplek polisi yah. Siapa yang polisi.” Kata laki-laki samping kiri aku sambil membaca KTP. Sementara laki-laki di sebelah kanan aku kembali menempelkan pisau ke leher aku. Besi dingin itu membuatku berpikir dua kali. Aku memilih berkata jujur. “Gak ada yang polisi, pak, cuma memang tinggal di komplek polisi aja. Di tempat saya gak ada sama sekali polisinya.” Aku menjawab setengah berbohong, padahal pak de aku pensiunan Danlanud, mbak sepupu aku pangkat kapten di Polres selatan, mas sepupu aku kapolres di pontianak.

Lelaki di depan aku melihat aku dengan seksama, pisau di leher aku semakin dingin. Mungkin ingin memastikan aku berkata jujur. Butiran keringat bermunculan. Tik..tik..tik..waktu bergulir lama sekali.

“Ayo, kita turunin dimana dia.” Sopir menanyakan rekan2nya yang sibuk dengan pikirannya masing2.

“heh..kau kan jauh dari perantauan. Jauh dari istri. Ini ada barang bagus. Ayo kita cari tempat.” kata laki-laki di depanku.

Hupf..aku gak menyangka kalau mereka akan nekat berbuat itu. Sepanjang pengetahuanku tentang perampokan di taksi, para korban paling parah diiket dan dibuang dalam keadaan terikat. Belum pernah ada yang diperkosa [maaf kalo aku salah, terutama untuk korbannya]. Aku gak mau jadi pertama.

“pak, saya turunin aja pak. Toh, bapak sudah ambil semua.” Kali ini suara aku bergetar. “Diem lu.” Laki-laki yang duduk di depan menoyor kepalaku. Aku tersentak. Antara kaget, takut, dan marah. “Ayo, cari tempat.” Ia menepuk punggung si supir.

Akhirnya ketahananku bobol juga. Aku menangis terseguk-seguk. Aku takut. Aku inget anakku, suamiku, ayah ibuku, kakak-kakakku. Badanku bergertar hebat. Tangisku berubah menjadi menghiba memohon mereka untuk tidak menyentuhku. Tapi aku tahu, kalo aku histeris mereka malah senang. Aku pernah membaca dan mendengar para penjahat kelamin, mereka akan lebih senang apabila korbannya panik dan histeris.

Entah karena aku terlalu menahan takut, entah karena aku terlalu panik, Tuhan memberikan pertolongan lewat cara-Nya. Badanku [seumur-umur aku belom pernah seperti itu] mendadak gemeter. Ya, gemetar, menggigil dan menggerakkan semua unsur di badanku. Kotak penyimpan ASI itu tiba-tiba terbuka, akibatnya botol penyimpan ASI dan sebagian es batu jatuh menimbulkan kegaduhan. Aku segera memungut botol-botol ASI itu. Sontak, para penjahat itu kaget dan bertanya padaku. Lelaki di kananku yang membawa pisau menarik leherku. “Kamu bawa senjata yah? Bunyi apa itu. Diam kamu.” Suara-suara mereka menjadi satu, mobil mendadak berhenti. “Bukan, bukan. Bukan apa-apa. Ini cuma botol-botol ASI buat anak saya. Anak saya masih tiga bulan pak, masih saya susui.” Isak aku.

Aku mengambil botol-botol ASI satu persatu. Berusaha tidak menjadi histeris. Wajah yandhrie segera membayang di kepala aku. Samar-samar aku mendengar ocehan Nayaka. Tangis aku semakin menderas. Di tengah-tengah keheningan, si supir yang dari tadi berputar-putar mengeluarkan suara. “Udah deh, kita turunin aja. Lagian kita gak kesitukan rencananya. Udah ni ibu kasih duit lah buat ongkos.” Laki-laki di sampingnya melihat supir lalu beralih ke aku. “Ya, udah, turunin deh di depan. Ujan dah makin deres. Nih, [dia mengambil uang dari sakunya] ceban. Cukupkan? Lu panggil taksi laen. Jangan ketipu dua kali, hahahaha”

Mobil berhenti mendadak. Laki-laki kecil sebelah kiri aku membuka pintu. Ia keluar lalu menarik aku dan setengah mendorong aku. Barang-barangku, tas ransel kerja, tas ASI, dan bungkusan kado untuk Nayaka dilemparkan ke arahku.

Taksi biru itu menderu meninggalkanku di gemuruh hujan..

Malam pekat. Ini sebuah malam yang jahanam…

[ah.. akhirnya terselesaikan juga, setelah setiap menorehkan kalimat pasti selalu brebes mili, dendam dengan mereka. menara thamrin lt.17, 28maret07]

March 21, 2007

pursuit of Happyness: untuk para ayah

Happyness chris gardner baru tau bahwa kebahagian itu mesti dikejar...

[Two hundred and twenty-five years ago, the signers of the Declaration of Independence declared that "all Men are created equal, that they are endowed by their Creator with certain unalienable Rights, that among these are Life, Liberty, and the Pursuit of Happiness."].

diangkat dari biografi nya si mbah Chris yang jadi best seller, film ini mampu menyentil hati kecil saya. lagi-lagi bung Will memainkan peran chris begitu klop dan menyentuh.

saya dan yandhrie nonton PoH, kemarin senin di PIM 2. gak begitu penuh. penonton lain lebih menonton 300 yang menurut kami amit-amit itu. tadinya yandhrie ogah2an nonton film ini. too drama holywood. tapi selama menonton, matanya tidak berkedip.

kami sama-sama brebes mili waktu Chris uangnya bener2 habis setelah "dirampas" oleh bank central karena menunggak pajak. belum lagi mereka diusir dari hotel. chris gak tau lagi mau kemana...menenteng-nenteng mesin osteo something itu, mereka terdampar di stasiun bawah tanah. uuu..uuu...uuu...kali ini chris sebagai ayah mesti diuji. bagaimana si toddler 5 tahun tetap nyaman bersamanya. mereka berkhayal kalo mesin osteo itu adalah mesin waktu yang membawa mereka ke zaman dinosaurus...

uu..uuu..uuu...mereka "bersembunyi" dari serbuan dinosour, jadi mereka mesti berlindung di "gua". Chris ayah yang luar biasa imajinatif. dipilihnya toilet sebagai gua. di situ, anaknya tertidur, sementara christ menangis. dia mencoba menahan pintu [yg padahal sudah ia kunci] saat seseorang menggedor2 supaya dibuka..

saya memandang Yandhrie, matanya sedang berair. ..

film ini patut ditonton, terutama untuk para ayah...

dan satu lagi..kebahagiaan memang harus dikejar, kalau perlu dengan berlari-berlari sekuat tenaga..

: untuk Nayaka [we will run for your happyness]

saya: ibu yang bodoh dan ceroboh

ini dikutip dari email cur-hat saya ke milis lovingmom...

moms..
maaf pagi2 dah mendengar keluhan saya. pagi tadi, jam 5. Nayaka [5bulan] jatuh dari tempat tidur. beberapa hari terakhir hidungnya mampet karena pilek, jadi adaa aja gaya tidurnya karena dia gak nyaman...
tempat tidur udah dibarikade dengan bantal [oiya, dia tidur sama ayah ibunya]. tapi dia terjatuh. bodonya saya tertidur. cerobohnya, bantal barikade tempat naya terjatuh hanya satu bantal dan itupun yg tipis.

tambah bodoh dan ceroboh kuadrat, intuisi saya sebagai ibu gak jalan pagi itu. biasanya [selama dia pilek] jam 4 pagi saya udah nambah pagar keliling. saya tungguin dia yg sedang merengek karena idungnya mampet. tp pagi ini, saya tertidur..saya membiarkan nayaka..

maaf moms..saya begitu menyesal. waktu denger "blug" suara dia terjatuh bersama bantal tipisnya..saya terbangun. it's like a nitemare. saya gendong dia saya peluk dia saya menangis...menangis sejadi-jadinya. dia pun menangis keras..keras sekali. menjerit tepatnya. saya elus punggungnya, saya periksa kepalanya..saya ciumi dia. saya kompres dengan air. setelah tenang..saya beri nenen..sesekalli terdengar sesegukkan tangisnya diantara isapannya.

moms..
ada yang pernah punya pengalaman seperti saya? being a clumsy and a fool mom?
apa yang harus saya lakukan? bawa ke fisioterapi kah? bertanya ada yang salah dengan tulangnya?
bagaimana dengan kepalanya.?
memang 1 jam setelah jatuh dia tertidur lagi.. setelah itu saya beri trombopop ke seluruh tubuhnya termasuk kepala?
moms..
jangan marah sama saya yah....

salam
ariemega

iya.., ini "hadiah" di ulang tahun ke 28: yaitu: Jangan sembrono, jangan malas, dan jangan panik. thanks to mom retno and mom fenny yang mendukung saya untuk tidak panik dan jangan terus2an menyesali diri sendiri..

eeng..waktu naya jatuh, "blug" suaranya, saya paniknya luar biasa. saya berteriak memanggil Nayaka dan ibu saya. airmata saya berlinang. saya peluk dia..dia menangis kenceng sekali. tapi diantara kepanikan saya, saya coba untuk bersikap logis, yaitu untuk tidak berteriak "AaAAAAA!" kemudian menutup mulut dan terdiam. Tidak. Saya segera menggendong Nayaka. saya tempelkan dadanya ke dada saya. segera saya periksa kepalanya. punggungnya.

yandhrie datang pertama kali, disusul ibu saya. saya memeluk nayaka. memeriksa keadaannya sambil memeluknya. ibu saya mengambil alih Nayaka...memeriksanya. yandhrie membawa air dingin. saya dan ibu saya mengompreskan waslap ke kepalanya. dia tenang sedikit. lalu saya nenenin Nayaka...

setelah tenang..gaya nayaka nenen sambil ngelirk ke sana kemari. dilihatnya ayahnya. Naya melepaskan puting saya, melihat ke yandhrie dan tersenyum...ehm..lebih tepatnya tertawa, seperti yang biasa ia lakukan setiap melihat ayahnya.

Nayaka..maafkan ibumu yah.

March 20, 2007

jangan..jangan nonton 300

Imageload 

[gambar dari WB]

Saya nyesel nonton film satu ini. ternyata, review koran tempo [lupa tanggalnya] tidak semanis film nya. Maaf, mungkin saya bukan penyuka grafis, sehingga novel grafis yg kemudian diterjemahkan ke film membuat saya muak. gambaran filmnya sungguh artifisial. baik itu dari segi gambar, akting para pemain, pemilihan tokohnya, hingga dialog2nya. aneh banget deh ini film. kayaknya gak bisa dibandingin dengan Gladiator yg dapet oscar untuk aktor terbaik. atau LOTR yg menangin visual effect [didukung dengan landscape asli, kata dania]

karena ngantrinya lebih awal, saya bisa nonton film ini. saya duduk di F11-12 [sama suami tentunya]. sewaktu masuk, duduk manis menunggu film dimulai, ternyata penontonnya mbludak. bahkan ada yang sampai di bawah sana. dan film pun dimulai...

saya menonton sambil makan hod dog. di awal film, bangsa spartan memilih bayi yg sehat dan kuat. gak boleh cacat. kalo cacat langsung dibunuh. [maklum belum ada teknologi USG]. lalu berlanjut ke leonidas kecildiajarkan kekerasan, salah satunya adalah memukul temannya, kalau perlu membunuh untuk dapetin makanan. saya mulai eneg membayangkan bayi lucu dibunuh, dan anak2 saling membunuh. Sosisnya segera saya kunyah cepat-cepat.

scene berikutnya yaaaa, saya pikir saya akan melihat kejijikan dan kekejaman yg lain, ternyata yang saya liat membuat saya tertawa. film ini terlalu berlebihan. bangsa sparta dan persia digambarkan sangat artifisial [baca: imajinasi digital 80 an]. dialog2nya kayak sinetron kita. artikulasi suara kalo marah mesti tinggi. muka munafik atau muka yang marah mesti ditunjukkan dengan mata yang menyipit. kalo sedih mesti menangis dan teriak.

banyak adegan klise: si kapten berjuang bersama anaknya. di awal2, gak ngaku anaknya jadi prajurit. pas matinya, di depan ayahnya. si ayah [kapten], belum pernah bilang kalo dia mencintainya atau bangga padanya.

si permaisuri ngasih kalung ke leonidas dengan harapan leonidas pulang dengan kalung itu. [di LOTR juga ada, tp kok ya maniss banget bawaannya]

berantemnya sambil ngobrol. tapi, ya itu tadi, kalimat obrolannya gak seruu banget. banyak lah yang lain.

belum lagi penggambaran tokohnya. si Xerxes: mengingatkan saya pada Oji Syahputra. gaya dan suaranya, mengingatkan saya pada pandangan umum apa itu wadam semasa saya kecil.

ephors : kok yaaa dibilang kawin dengan sesama tp doyan juga ama perempuan seksi oracle.

Ratu spartan: duh, apa gak ada cara lain untuk membujuk theron. si therong..eh theron cuma bilang, "kau tau apa yang ku mau" hehehe langsung deh mlorotin bajunya.

leonidas: eh..eh..eh..dia bukannya Yunani kan?? kok kayak Jew?

ah, sudahlah, banyak banget ketidaknikmatan film itu. yang saya pikir masih waras aktingnya Dilios {david wenham]. aktingnya gak kayak yg lain yang sok sok main opera, [lagi-lagi katanya si dania, si leonidas itu pemeran phantom di phantom of the opera..]. dia lebih santai [liat pandangan matanya yang "biasa2" aja]..

Muak rasanya. Kok rasanya mustahil prajurit perang tanpa busana perang kecuali tameng yang kokoh. eeng, bukan masalah busana perang siih, tapi itu loooh cawat nya. awal2 sih boleh2 aja ngeliat para pria six pack dengan cawat, tapi ya udah jangan kelamaan. belum lagi ada adegan pantatnya leonidas diliatin. urgensi nya di film apa??. yang aneh lagi. si leonidas kan akhirnya mati. jenasahnya dihujani panah. tapi tak satu pun anak panah yang kena testikelnya. hihihi

sekali lagi sudahlah, saya nyesel banget nonton film itu. film ini jadi box office karena mungkin di Iran sana pada protes kali yah. orang jadi penasaran. sekali lagi...sumpah saya menyesal membuang 70000 buat film ini.

My Photo
Powered by Friendster Blogs

Categories

Photo Albums

November 2007

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30