« November 2006 | Main | February 2007 »

January 31, 2007

pagina yang tercecer

Hari ini datang sebuah email dengan judul “Masih seperti dulu?” . Pengirimnya seorang teman lama. Dalam benakku, apa yang masih seperti dulu? Status? Bentuk badan? Rambut? Atau apa?. Zaman teknologi gini—saya yakin dia cukup akrab dengan internet—mestinya dia bisa cek saya semisal lewat friendster. Dia mestinya cukup mengenal saya sebagai manusia narsis dan bukankah friendster tercipta untuk itu? Ternyata sewaktu saya baca emailnya, kurang lebih: “Nyong [begitu panggilan “sayang” dia sama saya yang saya tidak tau apa artinya setelah 10 tahun kenal dengannya] masih seperti dulu? Masih senang menikmati senja? Seperti cerpen2nya seno? Masih suka menyeruput white coffee without sugar? Masih sering menikmati senja dari ketinggian gedung, menyeruput kopi, menghirup mentol, lalu menorehkan pena membentuk puisi? Kau masih seperti dulu?”

Halah! Kok yah jadi mellow gini. Waktu pertama kenal dia, saya masih memakai putih abu-abu, membawa seperangkat alat batik dan kain untuk di batik di museum tekstil. Dia bertanya pada saya, “Adik dari yogya yah?” saya jawab, “enggak, dari Jakarta. Memangnya orang mbatik selalu dari Yogya,” jawab saya defensive. Sejak saat itu kami berteman akrab. Dia drop out sarjana filsafat UGM, lantas pergi ke Belanda. Ngakunya sama saya nerusin filsafat di Den Haag. Pulang ke Indonesia buat iseng-iseng saja. Waktu tahun pertama saya kuliah dia balik ke Belanda.

Dia kembali ke Indonesia pada saat saya tahun ke tiga kuliah. Saya sudah kerja [tetap] jadi wartawan di sebuah kantor berita jepang. Pertemuan pertama kami di Bali, setelah saya selesai liputan dari Timor. Ya, kami menikmati tenggelammnya matahari di sanur. Lalu, pembicaraan kami lanjutkan di cottage saya. Kami berbincang-bincang hingga pukul 5 pagi. Tidak ada yang istimewa. Pertemuan di Bali merupakan pertemuan pertama sekaligus terakhir kami. Tadinya kami ingin berlanjut ke Alor tapi tiba-tiba ponselnya bergetar. Dia berbicara dalam bahasa Belanda. “Nyong, tampaknya kita tidak bisa ke alor deh. Saya mesti kembali ke Belanda dua atau tiga hari lagi.” Katanya setelah ia selesai berbicara di ponselnya. “Gup, kalo boleh tau, lo ngapain sih di Belanda?” [Gupe, begitu panggilan saya ke dia, selalu membahasakan dirinya saya atau aku ke saya, tapi saya selalu memakai gue lu ke dia] “Saya cuma cari makan doang.” “Iya, gue juga cari makan. Lu ngapain di sana? Dari sejak pertama kenal ama lu, lu tuh gak jelas banget deh. Kerja lu apa. Lu dah punya keluarga apa belum. Kenapa tinggal di Belanda, punya keluarga di Indo gak selain nenek lo di yogya?” “Nah, kamu gak pernah nanya?” “Sekarang gue tanya.” Dia hanya tertawa, lalu menyalakan rokoknya tersenyum. “Udah pagi nih, siap-siap gih, katanya mau ke Blahbatu, ngeliat Gong.” Dia tidak menjawab pertanyaan saya. Setiap saya tanya tentang hal itu, dia balas bertanya: “Memangnya kamu mau nikahin saya nanya2 tentang itu.” YeeeeY!!! Wajar dong orang tanya tentang temannya seperti itu. Ya sudahlah, saya menikmati hubungan platonis saya dengan dia.

Setelah dia pulang ke belanda, tidak ada kabar dari dia. Email pun jarang. Hingga email hari ini. Saya jawab: “kalo sekedar menikmati kopi, senja dan puisi, gw blm berubah. gue tidak merokok lagi dah 2 tahun terakhir ini. Lo dimana? Kemana aja?” Tidak lama kemudian, email lain datang. “Saya di Jakarta, ketemu yuk. Ada tempat enak. Di Pawon kemang. Kamu pasti dah pernah ke sana. Masih pulang kantor malam? Kita makan malam di sana. Ini ponsel saya 0813665****” Saya balas lagi, “see you there. Jam 6.30pm, gw pulang cepet kok, ponsel saya masih yang dulu no.nya. 0812935**** kalo ternyata hilang”

Duh, sebenernya saya ingin cepet-cepet bertemu nayaka. Nenenin dia sesegera mungkin. Tapi saya penasaran banget untuk bertemu dengan dia. Sempat ada episode dalam hidup saya, saya dan Gupe seperti layaknya orang pacaran jarak jauh. Kami berkirim surat. Bayangkan, surat yang ditulis tangan disertai foto kami masing-masing, atau kartu pos dari mana dia atau saya berada. Ditambah pertemuan pertama kami di Sanur. Semacam ada “hasrat” di antara kami berdua. Tapi, kalau saya dan Gupe turuti hasrat itu, sepertinya kami tahu bahwa hubungan kami justru akan berakhir. Sekali lagi, saya [dan mungkin dia juga] menikmati hubungan platonis ini. Jadi, saya penasaran beneer mau ketemu dia. Bagaimana rupa dia sekarang, kulit dia sekarang.

Pukul 17.00. Thamrin hujan. Rintik-rintik lalu menderas. Dalam taksi bersama teman saya. SMS datang: “Kemang makin banyak resto yah? I’m otw to Pawon ini baru dari QB” saya balas: “saya baru naik taksi. Hujan.” Saya berpikir apakah saya harus bertemu dia. Untuk apa?. toh sudah tidak ada apa2 lagi. Rasa penasaran? Tapi untuk apa rasa penasaran itu.. Lagipula, saya sudah tidak sabar bertemu nayaka. Dada saya membengkak, ingin segera menyusui Nayaka, sementara botol ASI perasan sudah penuh semua.

Tiba-tiba telpon saya berdering, nada panggil “close to you” bergema di tas saya, pertanda itu dari yandhrie. “Udah mau pulang?” “Belum.” Jawab saya, sedikit berbohong. “ya, udah, ati2 yah. Aku masih di kantor.”

“Ri, laper yah. Gimana kalo kita makan dulu di Pasaraya.” Suara dania teman saya membuyarkan lamunan saya atas “kebohongan” saya dengan yandhrie. Mengikuti ajakannya berarti saya tidak bertemu Gupe dan berarti saya akan segera bertemu dengan Nayaka. Saya memang lapar, bisa saja saya makan dengan dania, lalu bertemu dengan Gupe gak perlu banyak makan cuma ngobrol saja lalu pulang. Good idea! Saya akhirnya makan malam dengan Dania. Selama makan pikiran saya ke Gupe dan janjian kami. Tiba-tiba sms bergetar: “dimana?”, saya jawab “on the way, macet. Mungkin telat.” Setelah makan, saya dan dania berpisah. Saya naik taksi lain.

Di tengah jalan saya menelpon rumah. Lasmi pembantu saya yang mengangkat telpon saya. Dari telpon genggam saya, menyeruak harum minyak telon dan hair lotion nayaka. Suara tangisnya memanggil saya untuk segera pulang.

“Maaf, gw gak bisa ketemu. Harus segera pulang.” Saya kirim sms untuknya tepat di depan rumah makan Pawon. Lima belas menit kemudian nada sms berbunyi: “kamu masih seperti dulu. Membatalkan janji seenaknya. Membuat orang menunggu seenaknya.” Saya balas: “kan dah gw bilang, gw gak berubah. Hahaha. Sudahlah! Saya harus pulang.”

“kamu sepertinya enggan berubah, bahkan memainkan perasaan orang pun masih kamu lakukan hingga saat ini.” Balasan berikutnya. Saya tidak menjawab.

Sesampai di rumah, Nayaka tidur. Masih ada sisa ASI untuknya. Saya mandi. Setelah mandi, saya cek ponsel saya. “Nyong..saya kangen kamu. Sudah saatnya saya ngomong sama kamu.” Saya tidak menjawab lagi. Saya hapus sms itu.

Telpon berdering, kali ini dari yandhrie. Dia pulang malam karena mau nonton musikalisasi puisi Sapardi.

Sms lagi: “nyong..aku di musikalisasi sapardi. Teringat kamu menyenyandungkan hujan bulan juni. Aku kangen.” Saya tersenyum. Andaikan saya nekat bertemu dengan Gupe, gak terbayang saya akan bertemu dengan suami saya. Saya mau ngomong apa ke dia? Saya pandangi wajah Naya yang tertidur dengan pulas. Nafasnya teratur. Kudekati wajahjku pada wajahnya. Kuhirup udara di sekitar wajahnya. Harum bedak. Grok grok nafasnya segera menyadarkan saya.

Saya ambil ponsel saya dan saya tulis pesan terakhir untuk Gupe. “Gupe, sudahlah gak usah ngomong kangen karena gw udah gak pernah kangen lagi. Gw bahkan dah lupa sama elu. Gw dah punya kehidupan. Lebih teratur, dan utamanya lagi ada laki2 yang sangat mencintai gw dan ada malaikat kecil yang membutuhkan gw. Bye Gupe.” Setelah pesan terkirim, telepon bergetar darinya. Kali ini saya langsung menolak telpon. Tidur di sebelah nayaka. Mencium jemarinya yang bau asem karena ia sudah mulai mengemut tangannya.

Dalam hening malam itu, saya masih mendengar getaran ponsel saya. […menara thamrin..070131]

January 23, 2007

menggugat iklan [ikon] ASI

Baru-baru ini, ada iklan ASI ekslusif dan gak tanggung-tanggung bintang iklannya adalah ibu negara dan ibu menteri kesehatan. Beberapa bulan lalu, 2 produsen terbesar untuk ibu menyusui prenagen dan nutricia menobatkan artis-artis untuk menjadi duta ASI. Diantaranya Dian Nitami dan Mona Ratuliu sebagai duta ASI. Untuk Nutricia, produsen  menggaet Arzeti Bilbina sebagai dutanya.

Sepintas gak ada masalah dengan iklan-iklan tersebut. Tapi coba deh kita renungkan baik2. Ibu negara Ani Yudhoyono dan Ibu Siti Fadillah di layar kaca tampak sangat serius menyerukan ASI ekslusif 6 bulan pada ibu-ibu menyusui. It’s good!! Gw setuju banget, emang harus itu!! Tapi, ibu Ani Yudhoyono yang terhormat, gimana bisa kami para perempuan menyusui ekslusif 6 bulan. Kami para buruh, minta cuti mensturasi saja susahnyaaa minta ampun, sampai dimintain pembuktian segala!! Belum lagi cuti hamil. Bu, ibu tahu tidak, kami para buruh, kalau mau cuti hamil kadang gaji hanya dibayarkan separohnya. Belum genap tiga bulan, kami dipaksa masuk kalau tidak kami akan diancam akan dipecat secara sepihak [dianggap mengundurkan diri sukarela] tanpa dibayarkan pesangonnya. Ibu Negara yang terhormat tau tidak??? Sebenarnya Iklan ini mau membidik ibu-ibu yang mana??

Gak usah para buruh wanita, gw aja yang bukan buruh pabrik merasa gak cukup dengan cuti 3 bulan. Memang di beberapa perusahaan atau lembaga atau kedutaan mereka memberikan hak cuti melahirkan 6 bulan dan tetep digaji penuh. Tapi ada juga perusahaan kayak gw yang “mengikuti aturan pemerintah Indonesia” tapi [sebagai perusahaan internasional] tutup mata dengan peraturan internasional WHO tentang ASI ekslusif.

Jadi, jangan asal gembar-gembor pemberian ASI ekslusif wajib hukumnya, tapi BOJO-mu ndak ikut mendukung dengan tidak merubah cuti hamil jadi 6 bulan!!!

Iklan kedua penunjukkan duta ASI. Ini bukan iri bukan sirik, secara mereka ARtis..yah apa boleh buat. Gw setuju banget dengan duta ASI yang ditunjuk Prenagen. Dian Nitami dan Mona Ratulliu. Gw tau Dian Nitami bener2 concern banget ngurus anaknya, baru beberapa bulan dia muncul setelah jadi duta mary Claire untuk pelangsingan badan. Tapi gw lebih sreg banget dengan Mona Ratuliu. Dia bener2 ngurus anak, nyusuin anaknya hampir 2 taun. Coba deh perhatiin, baru 2 tahun kemudian dia muncul main sinteron [gw lupa judulnya, karena emang gak pernah nonton] yg dia jadi perempuan polio [gw taunya dari iklan sinetronnya].

Tapii..Arzeti Bilbinaaa….enggak bangeeed dehhh!!! Gw bukannya iri sama dia. Gak ada hubungan apa2 aja iri. Cuma, gw kecewa aja dengan dia sebagai ikon. Gak pantes. Dan menurut gw Nutricia gak pantes deh bikin ikon ASI..iya Nutricia memang membuat produk minuman ibu menyusui dan ibu hamil. Tapi, nutricia ini juga memproduksi susu bayi salah satunya Nutrilon. It’s ok dengan itu. Jualan kok. But, you know what…susu nutrilon adalah salah satu [mungkin yang paling pertama] produk yang getoool bangettt masukin susunya ke RS.bersalin atau RSU yang punya klinik bersalinnya. Temen yandhrie, lahiran di RSIA yang terkenal banget di Jakarta Barat, bayinya selama di Rumah Sakit itu sudah diberi susu Nutrilion. Dan konyolnya lagi pemberian susu nutrilon tergantung dengan kelas si ibu. Kalo di VIP diberi Nutrilon Platinum, kalo di klas I or II Nutrilon Royal, kelas III Nutrilon Gold or just Nutrilon 1.

Ada juga RSIA “H” yang ada di jatinegara dan di depok. Di depok, sepupu gw bayinya juga diberi nutrilon dan dia di kelas II jadi dapetnya Nutrilon Royal.

Teman gw satu lagi di RSIA di Bekasi, di RSnya, si bayi dah dikasih formula nutrilon. Alasannya dia abis operasi cesar anaknya kasian haus. [please deh, bayi bisa bertahan 2 hari tanpa susu ibunya]

Gak usah jauh2…gw aja. Alhamdulillah banget RS gw YPK adalah RS pro ASI. Dokter kandungan, suster, Dokter Anak sangat galak menyuruh ibunya memberikan ASI. Tapi dooh, yang namanya sales susu formula tauu aja cari selah nya. Mereka minta no.telp pasien yg  baru melahirkan dengan dalih mau memberikan souvenir. Ternyata mereka memberikan pamphlet susu formula untuk bayi gw. Halus memang.

Back to Nutrilon, nutricia dan Arzetti. Ketiganya bagi gw telah melakukan “kebohongan publik”. Nutricia memang kapitalis yang memang cuma cari untung. Di satu kaki mereka memproduksi minuman nutrisi untuk ibu, di kaki lainnya yaa buat si bayi alias susu formula

Arzetti. Semua orang tau dia model. Gw pernah liat iklan ikonnya dia yang sayangnya di majalah ayah bunda. Dia cerita bagaimana dia ingin mengikuti jejak ibunya memberikan ASI kepada 7 anaknya.  Find. Di iklannya bilang kurang lebih sebagai model dia harus menjaga bentuk tubuhnya, dengan memberikan ASI dapat melangsingkan kembali. It’s true, keuntungan ASI adalah mengembalikan bentuk tubuh ibu ke berat semula lebih cepat. But, YELOOOWW, Arzetti itu kan iconnya Marie Claire Bukannnn????? Lo mau ketipu dengan ucapannya??? Please deh.

Kenapa sih? Ikon nya harus mereka para ARTIS yang sebenernya bisaaaaa banged mau kasih ASI ekslusif. Mereka punya waktu yang lebih fleksible. Gak maen sinetron, gak ngemsi, gak jalan di catwalk setaon or dua taon gak bakal mengurangi pundi2 mereka.

Kenapa Ikonnya gak mbak2 tukang sayur  yang  membawa anaknya berjualan dan disusui setiap saat, panas terik berteduh di pohon. Atau buruh pabrik yang ngumpet2 memeras ASI di kamar mandi yang sanitasinya kurang terawat atau karyawati kantoran yang memeras ASI di toilet sambil digedor2 orang lain mau pipis??? Kenapa gak mereka??? Mereka seharusnya yang menjadi ikon ASI. Di tengah kesulitan dan mengatur waktu agar bisa memberikan HAK anak merak atas ASI, mereka bisa. Semestinya mereka yang menjadi ikon ASI…para perempuan tangguh!!!

January 14, 2007

nayaka magani bibisana

Adorable and wise leader. Itu artinya. Di ambil dari bahasa Sanskrit. Nayaka sendiri dalam Budha juga berarti pemimpin. Kalau cari di google atau di wikipedia nayaka adalah nama dinasti.

Gw dan Yandhrie gak muluk2 milih nama nayaka. Gak mengharapkan kalo besar dia nanti jadi pemimpin Negara, ikut2an bikin partai trus pemilu yang nantinya membawa dia ke tampuk kekuasaan. Tidak!!

Juga kami gak muluk2 dan berharap dia jadi tampuk pimpinan di BUMN yang sarat dengan korupsi. Tidak!! Apalagi jadi pemimpin orkes dangdut dengan julukan satria bergitar yang mempunyai sebelas istri!! Tidak!

Kami berharap dia bisa memimpin dirinya baik2. Membawa dirinya baik2 ditengah persaingan global pada saat dia beranjak dewasa dan di usia matang. Tahan banting, tetap bijaksana dalam mengambil keputusan dan menjadi sosok yang menyenangkan pada saat menghadapi carut marut keputusannya. Kami berharap dia bersahabat dengan siapa saja tanpa memandang status, berharap dia bernas, cerdas dan haus akan ilmu pengetahuan. Yang itu semua membuatnya menjadi bijak. Tidak menikam punggung teman, sahabat dan orang tua. Menjadi bahu di kala sahabat butuh tempat bersandar. Membuat orang lain bergembira dan bahagia di tengah keberadaannya.  Pada saat usia kami menua, kami berharap dia bisa menjadi pemimpin dalam rumah tangganya [apabila ia memutuskan untuk berumah tangga]..membimbing istri dan anak2nya.

Kami hanya berharap dan berdoa. Nayaka adalah dirinya sendiri. Jiwa yang merdeka. Dia bukan Junior kami [karena itu kami tidak pernah memanggilnya Junior] karena kami bukan senior. Maka dari itu, namanya bukan rekayasa antara nama ayah dan ibunya. Kami hanya ayah dan ibunya yang dititipkan oleh Yang Maha Kuasa untuk membesarkan dan membimbingnya menjadi manusia yang bermanfaat.

Kami orang tuanya yang terus berada di belakangnya, menjadi sahabatnya,sekaligus lawan berargumentasinya. Kami hanya orang tua tempat ia mengadu, tempat ia ingin dipeluk, tempat ia tertawa di kala dia sedih, tempat ia menangis di kala dia sedang berbahagia.

Nayaka Magani Bibisana..selamat datang di dunia nak..

My Photo
Powered by Friendster Blogs

Categories

Photo Albums

November 2007

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30