pagina yang tercecer
Hari ini datang sebuah email dengan judul “Masih seperti dulu?” . Pengirimnya seorang teman lama. Dalam benakku, apa yang masih seperti dulu? Status? Bentuk badan? Rambut? Atau apa?. Zaman teknologi gini—saya yakin dia cukup akrab dengan internet—mestinya dia bisa cek saya semisal lewat friendster. Dia mestinya cukup mengenal saya sebagai manusia narsis dan bukankah friendster tercipta untuk itu? Ternyata sewaktu saya baca emailnya, kurang lebih: “Nyong [begitu panggilan “sayang” dia sama saya yang saya tidak tau apa artinya setelah 10 tahun kenal dengannya] masih seperti dulu? Masih senang menikmati senja? Seperti cerpen2nya seno? Masih suka menyeruput white coffee without sugar? Masih sering menikmati senja dari ketinggian gedung, menyeruput kopi, menghirup mentol, lalu menorehkan pena membentuk puisi? Kau masih seperti dulu?”
Halah! Kok yah jadi mellow gini. Waktu pertama kenal dia, saya masih memakai putih abu-abu, membawa seperangkat alat batik dan kain untuk di batik di museum tekstil. Dia bertanya pada saya, “Adik dari yogya yah?” saya jawab, “enggak, dari Jakarta. Memangnya orang mbatik selalu dari Yogya,” jawab saya defensive. Sejak saat itu kami berteman akrab. Dia drop out sarjana filsafat UGM, lantas pergi ke Belanda. Ngakunya sama saya nerusin filsafat di Den Haag. Pulang ke Indonesia buat iseng-iseng saja. Waktu tahun pertama saya kuliah dia balik ke Belanda.
Dia kembali ke Indonesia pada saat saya tahun ke tiga kuliah. Saya sudah kerja [tetap] jadi wartawan di sebuah kantor berita jepang. Pertemuan pertama kami di Bali, setelah saya selesai liputan dari Timor. Ya, kami menikmati tenggelammnya matahari di sanur. Lalu, pembicaraan kami lanjutkan di cottage saya. Kami berbincang-bincang hingga pukul 5 pagi. Tidak ada yang istimewa. Pertemuan di Bali merupakan pertemuan pertama sekaligus terakhir kami. Tadinya kami ingin berlanjut ke Alor tapi tiba-tiba ponselnya bergetar. Dia berbicara dalam bahasa Belanda. “Nyong, tampaknya kita tidak bisa ke alor deh. Saya mesti kembali ke Belanda dua atau tiga hari lagi.” Katanya setelah ia selesai berbicara di ponselnya. “Gup, kalo boleh tau, lo ngapain sih di Belanda?” [Gupe, begitu panggilan saya ke dia, selalu membahasakan dirinya saya atau aku ke saya, tapi saya selalu memakai gue lu ke dia] “Saya cuma cari makan doang.” “Iya, gue juga cari makan. Lu ngapain di sana? Dari sejak pertama kenal ama lu, lu tuh gak jelas banget deh. Kerja lu apa. Lu dah punya keluarga apa belum. Kenapa tinggal di Belanda, punya keluarga di Indo gak selain nenek lo di yogya?” “Nah, kamu gak pernah nanya?” “Sekarang gue tanya.” Dia hanya tertawa, lalu menyalakan rokoknya tersenyum. “Udah pagi nih, siap-siap gih, katanya mau ke Blahbatu, ngeliat Gong.” Dia tidak menjawab pertanyaan saya. Setiap saya tanya tentang hal itu, dia balas bertanya: “Memangnya kamu mau nikahin saya nanya2 tentang itu.” YeeeeY!!! Wajar dong orang tanya tentang temannya seperti itu. Ya sudahlah, saya menikmati hubungan platonis saya dengan dia.
Setelah dia pulang ke belanda, tidak ada kabar dari dia. Email pun jarang. Hingga email hari ini. Saya jawab: “kalo sekedar menikmati kopi, senja dan puisi, gw blm berubah. gue tidak merokok lagi dah 2 tahun terakhir ini. Lo dimana? Kemana aja?” Tidak lama kemudian, email lain datang. “Saya di Jakarta, ketemu yuk. Ada tempat enak. Di Pawon kemang. Kamu pasti dah pernah ke sana. Masih pulang kantor malam? Kita makan malam di sana. Ini ponsel saya 0813665****” Saya balas lagi, “see you there. Jam 6.30pm, gw pulang cepet kok, ponsel saya masih yang dulu no.nya. 0812935**** kalo ternyata hilang”
Duh, sebenernya saya ingin cepet-cepet bertemu nayaka. Nenenin dia sesegera mungkin. Tapi saya penasaran banget untuk bertemu dengan dia. Sempat ada episode dalam hidup saya, saya dan Gupe seperti layaknya orang pacaran jarak jauh. Kami berkirim surat. Bayangkan, surat yang ditulis tangan disertai foto kami masing-masing, atau kartu pos dari mana dia atau saya berada. Ditambah pertemuan pertama kami di Sanur. Semacam ada “hasrat” di antara kami berdua. Tapi, kalau saya dan Gupe turuti hasrat itu, sepertinya kami tahu bahwa hubungan kami justru akan berakhir. Sekali lagi, saya [dan mungkin dia juga] menikmati hubungan platonis ini. Jadi, saya penasaran beneer mau ketemu dia. Bagaimana rupa dia sekarang, kulit dia sekarang.
Pukul 17.00. Thamrin hujan. Rintik-rintik lalu menderas. Dalam taksi bersama teman saya. SMS datang: “Kemang makin banyak resto yah? I’m otw to Pawon ini baru dari QB” saya balas: “saya baru naik taksi. Hujan.” Saya berpikir apakah saya harus bertemu dia. Untuk apa?. toh sudah tidak ada apa2 lagi. Rasa penasaran? Tapi untuk apa rasa penasaran itu.. Lagipula, saya sudah tidak sabar bertemu nayaka. Dada saya membengkak, ingin segera menyusui Nayaka, sementara botol ASI perasan sudah penuh semua.
Tiba-tiba telpon saya berdering, nada panggil “close to you” bergema di tas saya, pertanda itu dari yandhrie. “Udah mau pulang?” “Belum.” Jawab saya, sedikit berbohong. “ya, udah, ati2 yah. Aku masih di kantor.”
“Ri, laper yah. Gimana kalo kita makan dulu di Pasaraya.” Suara dania teman saya membuyarkan lamunan saya atas “kebohongan” saya dengan yandhrie. Mengikuti ajakannya berarti saya tidak bertemu Gupe dan berarti saya akan segera bertemu dengan Nayaka. Saya memang lapar, bisa saja saya makan dengan dania, lalu bertemu dengan Gupe gak perlu banyak makan cuma ngobrol saja lalu pulang. Good idea! Saya akhirnya makan malam dengan Dania. Selama makan pikiran saya ke Gupe dan janjian kami. Tiba-tiba sms bergetar: “dimana?”, saya jawab “on the way, macet. Mungkin telat.” Setelah makan, saya dan dania berpisah. Saya naik taksi lain.
Di tengah jalan saya menelpon rumah. Lasmi pembantu saya yang mengangkat telpon saya. Dari telpon genggam saya, menyeruak harum minyak telon dan hair lotion nayaka. Suara tangisnya memanggil saya untuk segera pulang.
“Maaf, gw gak bisa ketemu. Harus segera pulang.” Saya kirim sms untuknya tepat di depan rumah makan Pawon. Lima belas menit kemudian nada sms berbunyi: “kamu masih seperti dulu. Membatalkan janji seenaknya. Membuat orang menunggu seenaknya.” Saya balas: “kan dah gw bilang, gw gak berubah. Hahaha. Sudahlah! Saya harus pulang.”
“kamu sepertinya enggan berubah, bahkan memainkan perasaan orang pun masih kamu lakukan hingga saat ini.” Balasan berikutnya. Saya tidak menjawab.
Sesampai di rumah, Nayaka tidur. Masih ada sisa ASI untuknya. Saya mandi. Setelah mandi, saya cek ponsel saya. “Nyong..saya kangen kamu. Sudah saatnya saya ngomong sama kamu.” Saya tidak menjawab lagi. Saya hapus sms itu.
Telpon berdering, kali ini dari yandhrie. Dia pulang malam karena mau nonton musikalisasi puisi Sapardi.
Sms lagi: “nyong..aku di musikalisasi sapardi. Teringat kamu menyenyandungkan hujan bulan juni. Aku kangen.” Saya tersenyum. Andaikan saya nekat bertemu dengan Gupe, gak terbayang saya akan bertemu dengan suami saya. Saya mau ngomong apa ke dia? Saya pandangi wajah Naya yang tertidur dengan pulas. Nafasnya teratur. Kudekati wajahjku pada wajahnya. Kuhirup udara di sekitar wajahnya. Harum bedak. Grok grok nafasnya segera menyadarkan saya.
Saya ambil ponsel saya dan saya tulis pesan terakhir untuk Gupe. “Gupe, sudahlah gak usah ngomong kangen karena gw udah gak pernah kangen lagi. Gw bahkan dah lupa sama elu. Gw dah punya kehidupan. Lebih teratur, dan utamanya lagi ada laki2 yang sangat mencintai gw dan ada malaikat kecil yang membutuhkan gw. Bye Gupe.” Setelah pesan terkirim, telepon bergetar darinya. Kali ini saya langsung menolak telpon. Tidur di sebelah nayaka. Mencium jemarinya yang bau asem karena ia sudah mulai mengemut tangannya.
Dalam hening malam itu, saya masih mendengar getaran ponsel saya. […menara thamrin..070131]

Recent Comments